Cara Budidaya Belut di Air Bersih Tanpa Lumpur

bertaniorganik.com – Budidaya Belut Tanpa Lumpur – Sahabat bertani, di habitat aslinya belut hidup dengan membuat lubang-lubang di dalam lumpur. Sehingga dalam budidaya belut, kolam sebagai tempat tinggalnya dibuat semirip mungkin dengan habitatnya yaitu dengan memberikan lumpur.

Namun tahukah kamu saat ini budidaya belut ternyata dapat dilakukan pada kolam air jernih tanpa menggunakan lumpur?

Cara budidaya belut di air bersih tanpa lumpur merupakan sebuah inovasi dalam bidang perikanan. Cara ini mulai banyak diterapkan para peternak karena dinilai lebih praktis dari pada menggunakan metode konvensional yaitu budidaya belut dengan lumpur. Namun sebelum kamu memutuskan untuk melakukan budidaya ada baiknya kamu perlu tahu apa kelemahan dan keuntungan dari sistem ini

Kelemahan dan Keuntungan Budidaya Belut Tanpa Lumpur

Budidaya belut tanpa lumpur saat ini mulai banyak dilakukan para peternak belut karena prosesnya yang cukup mudah. Hanya saja, kelemahan dari cara ini adalah kamu harus menyediakan makanan yang cukup. Karena belut hanya mengandalkan dari makanan yang kamu berikan.

Namun dibalik kelemahannya ada beberapa keuntungan yang kamu dapat dari cara ini. Diantaranya adalah kamu lebih mudah mengontrol belut ketika belut terserang penyakit. Selain itu, budidaya belut dengan air bersih juga dapat mengurangi tingkat kanibalisme belut. Keuntungan lain adalah kamu tidak perlu repot lagi untuk mencari gedebok (batang) pisang, jerami, dan lumpur sebagai medianya.

Langkah-langkah Budidaya Belut Tanpa Lumpur

Untuk melakukan budidaya belut di air bersih tanpa lumpur ada beberapa tahapan yang perlu kamu lakukan.

Persiapan Kolam dan Air

Langkah pertama dalam melakukan usaha budidaya belut adalah menyiapkan tempat pembesaran dan air bersih untuk budidaya. Untuk tempat pembesaran kamu dapat menggunakan kolam dengan dinding terpal maupun kolam tembok. Selain itu kamu juga dapat menggunakan kolam dari tong atau drum. Bahkan dalam budidaya skala kecil (rumahan) atau masih tahap mencoba kamu juga bisa melakukan budidaya belut dalam ember.

Jika dibandingkan dengan kolam lumpur, menggunakan kolam air jernih dapat menghemat tempat karena ukuran kolam yang tidak terlalu besar dapat diisi banyak bibit.

Baca: Begini Cara Mudah Membuat Kolam Terpal Rangka Bambu Untuk Ternak Lele

Setelah kolam pembesaran sudah disiapkan, tahap selanjutnya adalah menyiapkan air untuk mengisi kolam. Air yang kamu gunakan untuk budidaya harus air yang jernih dan bersih, mempunyai suhu antara 26-28 C, serta tidak mengandung zat kimia beracun. Hindari menggunakan air PAM, karena air dari PAM memiliki kandungan kaporit yang tinggi. Selain itu hindari pula menggunakan air sumur bor karena minim kandungan oksigen, serta tidak boleh menggunakan air limbah.

Pemilihan Bibit

Dalam budidaya belut, penggunaan bibit yang berkualitas dan unggul merupakan salah satu faktor yang akan menentukan hasil panen kamu nantinya. Untuk memilih bibit belut yang baik kamu dapat memperhatikan ciri-cirinya sebagai berikut:

1. Pilihlah bibit yang tidak ada bekas luka dan memiliki pergerakan yang lincah.

2. Jika menggunakan bibit belut yang di dapat dari alam, hindari menggunakan bibit yang didapat dengan metode setrum karena akan menimbulkan bekas luka.

3. Sebaiknya gunakan bibit yang berukuran seragam. Tujuannya untuk mengurangi tingkat kanibalisme.

4. Selain adanya kanibalisme, jika menggunakan bibit yang tidak seragam nantinya pemberian pakan tentunya juga tidak akan merata.

Baca: Cara Pemijahan dan Pembibitan Belut Secara Buatan Dengan Mudah

Penebaran Bibit Belut

Dengan budidaya belut tanpa lumpur benih yang ditebarkan bisa lebih banyak. Hal ini jika dibandingkan dengan cara budidaya belut secara konvensional atau menggunakan lumpur.

Belut merupakan hewan yang bisa dibudidayakan dengan kepadatan tinggi. Kepadatan tebar untuk bibit belut berukuran panjang 10-12 cm berkisar 50-100 ekor/m2.

Lakukan penebaran bibit pada pagi atau sore hari, agar belut tidak stres. Bibit yang berasal dari tangkapan alam sebaiknya dikarantina terlebih dahulu selama 1-2 hari. Proses karantina dilakukan dengan meletakkan bibit dalam air bersih yang mengalir. Berikan pakan berupa kocokan telur selama dalam proses karantina.

Pemberian Pakan Teratur

Pemberian pakan merupakan salah satu faktor yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan belut. Dalam pemberian pakan sebaiknya lakukan secara teratur dan sesuai kebutuhan. Jangan memberikan pakan secara berlebihan atau bahkan terlalu sedikit. Jika pakan diberikan terlalu banyak air akan cepat menjadi kotor dan belut akan menjadi mudah terserang penyakit dan bahkan mati. Jika pemberian pakan terlalu sedikit, sifat kanibalisme belut akan muncul dan pertumbuhan belut menjadi lebih lama.

Takaran pakan harus disesuaikan dengan berat populasi belut. Secara umum belut membutuhkan jumlah pakan sebanyak 5-20% dari bobot tubuhnya setiap hari

Berikut kebutuhan pakan harian untuk bobot populasi belut 10 kg:

Umur 0-1 bulan: 0,5 kg
Umur 1-2 bulan: 1 kg
Umur 2-3 bulan: 1,5 kg
Umur 3-4 bulan: 2 kg

Pakan budidaya belut bisa berupa pakan hidup atau pakan mati. Pakan hidup bagi belut yang masih kecil (larva) antara lain zooplankton, cacing, kutu air (daphnia/moina), kecebong, larva ikan, dan larva serangga. Sedangkan belut yang telah dewasa bisa diberi makanan berupa bekicot, ikan, katak, serangga, kepiting yuyu, maggot, dan keong. Frekuensi pemberian pakan hidup dapat dilakukan 3 hari sekali.

Baca: 5 Pakan Lele Alternatif Ini Mampu Mengurangi Biaya Pakan Pelet Lho

Untuk pakan mati bisa diberikan bangkai ayam, cincangan bekicot, ikan rucah, cincangan kepiting yuyu, atau pelet. Pakan mati untuk budidaya belut sebaiknya diberikan setelah direbus terlebih dahulu. Frekuensi pemberian pakan mati bisa 1-2 kali setiap hari.

Karena belut binatang nokturnal, pemberian pakan akan lebih efektif pada sore atau malam hari. Kecuali pada tempat budidaya yang ternaungi, pemberian pakan bisa dilakukan sepanjang hari.

Perawatan Belut

Dalam budidaya belut di air bersih, perawatan belut meliputi pemberian pakan secara teratur, pengontrolan kualitas air, serta pengendalian hama dan penyakit.

Belut merupakan binatang yang mengeluarkan lendir sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi dirinya yang terbilang sensitif. Lendir yang keluar terus menerus tentu akan mempengaruhi PH atau keasaman air kolam. Sehingga saat air kolam mencapai PH 7 maka air harus segera disirkulasi atau diganti. Oleh karena itu dalam budidaya belut menggunakan air bersih, kolam harus memiliki sirkulasi air yang baik.

Baca: Begini Cara Mengganti Air Kolam Lele Dengan Benar Agar Lele Tidak Stress

Panen Ternak Belut

Tidak seperti budidaya lele yang memiliki masa panen tertentu, dalam budidaya belut pemanenan tidak memiliki takaran dan batas masa panen. Karena mau sekecil atau sebesar apapun belut tetap bisa dinikmati dan mudah dijual. Namun untuk pemasaran skala lokal biasanya belut dipanen pada usia 3-4 bulan dari masa pemeliharaan. Sedangkan untuk ekspor, belut dipanen pada usia 9 bulan.

Pemanenan belut bisa dilakukan secara harian atau tidak secara sekaligus dengan penangkapan manual. Hal itu karena kebanyakan masyarakat menyukai ukuran belut yang beragam, tidak selalu harus ukuran yang besar.Belut yang memiliki kualitas yang baik nantinya bisa kamu gunakan untuk indukan dan menghasilkan bibit-bibit baru nantinya

Proses panen dengan cara budidaya belut tanpa lumpur ini lebih mudah dan praktis daripada metode lainnya. Apabila menggunakan kolam bisa dilakukan dengan menguras kolam atau menjaring belut yang ada di kolam.

Artikel Menarik Lainnya

Cara Membedakan Belut Jantan dan Betina Siap Kawin

Panduan Lengkap Budidaya Ikan Sidat, Komoditas Ekspor Berharga Fantastis

Cara Lengkap BUDIDAYA IKAN GABUS di Kolam Terpal

Cara Termudah Mengkultur (Memperbanyak) Kutu Air Daphnia sp Dengan Susu Bubuk