Cara Budidaya Cacing Tanah dan Pemasarannya

Cara Budidaya Cacing Tanah dan Pemasarannya

bertaniorganik.com – Sahabat bertani, pada artikel kali ini kita akan membahas cara budidaya cacing tanah.

Mungkin bagi sebagian orang cacing tanah dianggap sebagai hewan yang menggelikan. Namun siapa sangka hewan yang tidak memiliki tulang belakang ini memiliki potensi yang menjanjikan untuk dibudidayakan.

Untuk membudidayakan cacing tanah caranya juga sangat mudah dan tidak membutuhkan modal yang besar.

Budidaya cacing tanah juga membutuhkan lahan yang luas, bahkan ternak cacing tanah bisa dilakukan dalam ember.

Selain itu, permintaan kebutuhan akan cacing tanah juga tidak pernah surut karena memang cacing ini memiliki banyak manfaat dalam berbagai bidang kehidupan.

Manfaat Cacing Tanah

Dibalik penampilannya yang menggelikan, cacing tanah memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, hingga kesehatan.

Dalam dunia pertanian, cacing tanah berperan sebagai dekomposer atau hewan pengurai yang dapat menggemburkan tanah dan meningkatkan kesuburan tanah.

Caing tanah memiliki kandungan protein dan asam amino yang tinggi serta mengandung berbagai enzim yang bermanfaat, baik ketika masih segar maupun berbentuk cacing olahan.

Kandungan protein cacing tanah sekitar 76 %, lebih tinggi dari daging hewan mamalia yang hanya 65 % dan daging ikan yang hanya 50%. Bahkan kandungan asam amino cacing tanah mencapai 78-79 gram per liter.

Kandungan lain yang dimiliki cacing tanah diantaranya vitamin, zat besi, dan kalsium yang cukup tinggi.

Selain memiliki kandungan berbagai nutrisi, cacing tanah juga memiliki sistem kekebalan tubuh yang bersifat antimikroba sehingga sangat bermanfaat dalam melawan berbagai mikroba yang menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Dalam dunia peternakan dan perikanan, cacing tanah merupakan salah satu pakan alternatif yang sangat bagus bagi ayam dan lele karena memiliki kandungan protein yang tinggi.

Dalam dunia kesehatan caing tanah bermanfaat untuk mengobati tifus, mengobati diare, menyembuhkan luka lebih cepat, melancarkan sirkulasi darah, menjaga sistem kekebalan tubuh, mengatasi peradangan, mengatasi gangguan pembuluh darah, meningkatkan energi, menjaga kadar gula darah, dan mengatasi konstipasi.

Jenis Cacing Tanah Yang Sering Dibudidayakan

Cacing tanah memiliki berbagai jenis, namun yang dapat diternakan hanya tiga saja yaitu Pheretima, Perionyx, dan Lumbricus.

Ketiga jenis cacing tersebut sangat menyukai bahan organik yang berasal dari pupuk kandang dan sisa tumbuhan atau limbah dapur.

Cacing jenis Pheretima tubuhnya berbentuk gilig panjang dan silindris dengan warna merah keunguan. Tubuhnya memiliki sekitar 95-150 segmen dengan klitelumnya terletak pada segmen 14 sampai 16. Yang termasuk dalam jenis cacing ini adalah Cacing merah, koot, dan kalung.

Cacing Perionyx memiliki tubuh berbentuk gilig dengan warna ungu tua hingga merah kecoklatan.  Tubuhnya memiliki segmen antara 75-165 dan kitelumnya terletak pada segmen ke 13-17. Cacing jenis perionyx membutuhkan perawatan ekstra saat diternakkan.

Yang terakhir adalah cacing jenis Lumbricus. Cacing ini merupakan jenis cacing unggul yang paling banyak dibudidayakan karena memiliki tingkat produktivitas yang tinggi.

Cacing ini memiliki karakter tidak terlau banyak bergerak sehingga lebih mudah digemukan, cacing lumbricus juga mampu menghasilkan telur yang lebih banyak  dan memiliki kascing yang juga lebih banyak.

Tubuh cacing lumbricus berbentuk pipih dan memiliki segmen antara 90-195, di mana klitelum terletak pada segmen 27 sampai 32.

Langkah langkah Budidaya Cacing Tanah

Untuk membudidayakan cacing tanah berikut ini langkah-langkah yang perlu dilakukan.

Persiapan tempat budidaya cacing

Langkah pertama dalam budidaya cacing tanah adalah menyiapkan tempat untuk ternak cacing. Tempat disini berupa lahan dan wadah budidaya cacing.

Tempat untuk ternak cacing harus terbebas dari berbagai hama atau predator yang dapat memangsa cacing seperti semut, cicak, ayam dll.

Selanjutnya siapkan wadah atau kandang untuk budidaya cacing seperti bak semen, rak kayu, bok kayu, ember dll.

Membuat media ternak cacing

Tahap selanjutnya adalah mempersiapkan media untuk ternak caing.

Selain sebagai tempat hidup, media ini nantinya juga sebagai tempat memenuhi kebutuhan makanan mereka.

Ada banyak jenis media ternak cacing yang bisa dibuat, yang pasti media harus gembur dan banyak mengandung bahan organik.

Kamu bisa membuat media dari log atau limbah budidaya jamur, tanah organik (tanah plus serbuk gergaji, atau cacahan batang pisang), campuran kompos dengan beberapa bahan organik (limbah pertanian atau limbah pasar).

Cara membuat media ternak cacing:

  • Masukan bahan-bahan organik yang telah disedikan hingga mencapai ketinggian 10-15 cm.
  • Masukkan air seckupnya agar media menjadi basah dan gembur.
  • Aduk semua bahan tersebut hingga rata agar terjadi proses fermentasi.
  • Setelah 4 minggu tambahkan kotoran hewan sebanyak 30% dari media hidup. Tambahkan juga kapur pertanian sebanyak 1 % untuk menetralkan PH.
  • Media dianggap berhasil apabila PHnya mencapai 6,0 – 7,2, tingkat kelembaban 15 – 30 %, dan suhu antara 15 – 25ºc.

Setelah media selesai dibuat, masukkan cacing seberat media hidup yang telah disediakan.

Perawatan Cacing

Perawatan cacing tanah meliputi pemberian pakan dan pengendalian hama yang dapat menyerang cacing.

Pakan cacing tanah

Setelah cacing dimasukkan ke dalam media, selanjutnya tinggal kita beri makan.

Pakan cacing tanah dapat berupa limbah organik rumah tangga (sisa nasi, sisa sayur, dll), limbah home industry (kulit buah, sisa dapur rumah makan, dsb), limbah peternakan (kotoran sapi, ayam, kambing), dan dedaunan.

Berikan pakan sesuai dengan berat cacing yang kita masukkan. Misalnya berat cacing 1 kg maka jumlah pakan yang kita berikan sebanyak 1 kg.

Sebelum pakan diberikan sebaiknya pakan dibuat bubur atau bubuk terlebih dahulu. Buat bubur dengan perbandingan pakan dan air 1:1. Lalu taburkan pakan secara merata hingga 1/3 permukaan media hidup cacing tanah.

Jangan lupa untuk memperhatikan apakah cacing kekurangan air atau kekurangan pakan. Perhatikan pula tingkat kelembaban media.

Hama Cacing dan Cara Penanganannya

Saat melakukan budidaya, perhatikanlah hama-hama yang dapat menyerang cacing seperti semut, kumbang, burung, kelabang, lipan, lalat, tikus, katak, tupai, ayam, itik, ular, angsa, lintah, dan kutu.

Untuk mencegah hama tersebut usahakan agar lubang tempat pemeliharaan harus selalu tertutup.

Kamu dapat menutup lubang dengan menggunakan kawat kasa. Karena kawat kasa selain mencegah masuknya hama juga menjamin berlangsungnya proses pergantian udara tetap berjalan dengan baik.

Untuk mencegah serangan semut, lakukan perambangan dengan air secukupnya di sekitar kotak pemeliharaan.

Panen Cacing

Cacing dapat dipanen pada bulan ke 2,5 – 4.

Saat panen cacing sebaiknya tidak diambil semuanya agar terjadi proses regenerasi.

Untuk memanen cacing dapat dilakukan menggunakan pteromaks, lampu neon, atau bohlam. Cahaya yang dihasilkan dari lampu tersebut akan mengundang cacing untuk berkumpul di atas media. Selanjutnya cacing tinggal diambil dan dipisahkan dari media.

Cara lain adalah dengan membalikkan kotak pemeliharaan dan memisahkan cacing dari media.

Setelah cacing dipanen, masukkan kokon (telur cacing) dan sebagian cacing dewasa ke media hidup baru yang terpisah.

Kokon atau telur cacing ini akan menetas dalam waktu 14-21 hari. Setelah itu kita tinggal lakukan pemeliharaan seperti sebelumnya.