Mengenal Lalat Buah, Klasifikasi, Morfologi Dan Gejala Serangannya Secara Lengkap

bertaniorganik.com – Klasifikasi dan morfologi lalat buah – Lalat buah merupakan salah satu hama penting yang telah menjadi musuh utama petani sejak berabad-abad silam.

Kehadiran lalat buah sangat merugikan petani karena menyerang hampir semua tanaman buah dan hortikultura seperti tanaman jambu, jeruk, tanaman cabai dll.

Serangan lalat buah pada berbagai tanaman tersebut menyebabkan buah menjadi busuk dan berulat sehingga tidak bisa dikonsumsi apalagi dijual. Pada serangan lalat buah yang parah dapat membuat petani menjadi gagal panen.

Klasifikasi dan Morfologi Lalat Buah

gambar: greeners.com

Lalat buah atau yang memiliki nama latin Bractocera dorcalis merupakan salah satu spesies lalat dari suku Tephritidae. Lalat ini dapat ditemukan di berbagai belahan dunia seperti kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, Asia Selatan, bahkan kawasan Pasifik hingga Amerika Serikat (wikipedia).

Secara morfologi lalat buah memiliki ukuran tubuh yang hampir sama dengan lalat rumah. Namun berbeda dengan lalat rumah, lalat buah memiliki warna yang menarik dengan kombinasi warna hitam keabu-abuan, kuning, dan oranye kecoklat-coklatan.

Di Indonesia terdapat sekitar 66 spesies lalat buah yang telah teridentifikasi dan telah menyerang hampir 100 tanaman hortikultura. Diantara spesies tersebut misalnya Drosophila melanogaster dan Bactrocera sp.

Namun jenis lalat buah yang paling berbahaya adalah jenis Bactrocera sp. Hal ini karena lalat buah jenis Drosophila melanogaster menyerang buah yang telah kelewat matang. Sedangkan Bactrocera sp sudah menyerang buah sebelum buah matang.

Lalat buah Bactrocera sp ada beberapa macam diantaranya Bactrocera umbrosa, Bactrocera papayae, Bactrocera carambolae dan Bactrocera dorsalis. Masing-masing lalat buah tersebut menyerang tanaman inang yang berbeda-beda.

  • Bactrocera umbrosa menyerang nangka, cempedak, sukun, jeruk.
  • Bactrocera papayae menyerang pisang, mangga, pepaya, jambu biji, belimbing, cabai, nangka, duku, rambutan, sawo, sirsak, jeruk, terong,
  • Bactrocera carambolae dan Bactrocera dorsalis menyerang jambu biji, belimbing, cabai, sukun, nangka, mangga, sawo, tomat, dan jeruk.

Siklus Hidup Lalat Buah

sumber: dosenbiologi.com

Di negara-negara tropis seperti Indonesia, lalat buah sangat mudah berkembang biak. Diantara penyebabnya adalah adanya pakan yang melimpah serta suhu dan iklim yang ideal.

Menurut Agus Susanto, peneliti Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Universitas Padjadjaran, seperti dikutip dari greeners.co, ” umumnya populasi lalat buah akan meningkat seiring dengan peningkatan curah hujan. Curah hujan memiliki hubungan terhadap pembuahan tanaman inang dan masa pembuahan banyak terjadi ketika sering hujan”.

Lalat buah dapat hidup dan berkembang pada suhu 10-30°C dengan siklus hidup sekitar 18-20 hari.

Telur lalat buah dapat menetas pada suhu antara 25-30°C dengan waktu tetas yang relatif singkat yaitu 30-36 jam.

Berikut ini siklus hidup lalat buah yang terdiri dari empat fase:

  • Fase pertama disebut dengan fase telur. Fase ini dimulai sejak lalat betina menyuntikan 50-100 telurnya ke dalam buah.
  • Fase larva. Pada hari ke 2 telur akan menetas menjadi belatung/set/larva yang merusak buah.
  • Fase pupa. Pada hari ke 4 belatung keluar dari daging buah dengan melubangi kulit buah dan kemudian menjatuhkan diri dan menjadi pupa di dalam tanah.
  • Fase imago. Setelah 3 hari di dalam tanah, pupa akan berubah menjadi lalat dewasa atau imago dan akan kaluar dari dalam tanah untuk berkembang biak.

Gejala Serangan Lalat Buah

gambar: wibowopenyuluh.blogspot.com

Gejala serangan lalat buah pada tanaman memiliki ciri yang khas jika dibandingkan dengan gejala serangan patogen lain. Serangan ini biasanya paling banyak kita jumpai pada musim hujan. Buah-buahan yang terserang lalat buah akan rontok sebelum matang. Kadangkala buah berwarna kuning dan keriput serta terdapat bintik hitam kecil pada bagian kulit buah.

Lalat buah yang menyerang tanaman sebenarnya hanya lalat betina. Lalat tersebut menyerang dengan menusukkan alat peletak telurnya (ovipositor) ke dalam buah. Bekas tusukan inilah yang menyebakan adanya titik atau noda hitam pada kulit buah.

Pada awal serangan, yakni pada saat pertama kali telur disuntikkan, buah masih terlihat baik dan segar. Kondisi buah akan berubah saat telur menetas menjadi larva.

Saat buah yang terserang dibelah, akan telihat belatung atau larva lalat buah. Larva akan merusak daging buah sehingga buah menjadi busuk dan gugur sebelum tua/masak.

Buah yang gugur ini akan menjadi biang serangan generasi berikutnya jika tidak dimusnahkan dengan segera.

Serangan lalat buah pada tanaman cabai akan menyebabkan buah menjadi busuk dan basah. Serangan lalat buah pada sayuran dan buah seperti paria, timun dan gambas menyebabkan buah bengkok dan busuk. Sedangkan serangan lalat buah pada buah jeruk menyebabkan jeruk menjadi cepat busuk dan berair, kemudian gugur ke tanah.

Cara Mengatasi Lalat Buah

Hama lalat buah bersifat polyfag, yaitu hama yang dapat menyerang semua jenis buah dari berbagai spesies dan famili. Karena sifatnya yang polyfag inilah lalat buah termasuk hama yang sulit dikendalikan.

Walaupun demikian, usaha-usaha pengendalian tetap harus kita upayakan sebisa mungkin agar dampak dari serangan tidak terlalu merugikan.

Berikut ini beberapa teknik pengendalian lalat buah yang umumnya diterapkan para petani:

  • Mengendalikan lalat buah dengan menyemprotkan pestisida atau insektisida pembasmi lalat buah.
  • Mengendalikan lalat buah dengan memasang lem lalat buah.
  • Mengendalikan lalat buah secara alami dengan menggunakan pisang
  • Membuat perangkap lalat buah dengan menggunakan botol bekas dan metil eugenol
  • Mengendalikan lalat buah dengan menggunakan tanaman tanaman yang tidak disukai lalat buah.

Demikian penjelasan mengenai Lalat Buah, Klasifikasi dan Morfologi, Gejala serangan dan Cara Pengendaliannya semoga bermanfaat.

Sumber artikel:mitalom.com, 8villages.com. wikipedia, greeners.co, belajartani.com

Artikel Menarik Lainnya

Cara Membuat Perangkap Lalat Buah Alami Dengan Metil Eugenol