[PANDUAN LENGKAP] Cara Budidaya Lele Sistem Bioflok, Hasilnya 10 Kali Lipat Dari Budidaya Biasa

Budidaya Lele Sistem Bioflok atau Kolam Bundar, Meningkatkan Untung Hingga 105 %

bertaniorganik.com – [PANDUAN LENGKAP] Cara Budidaya Lele Sistem Bioflok – Budidaya Lele dengan sistem bioflok merupakan sistem budidaya lele yang belum lama diterapkan di Indonesia. Jauh sebelum sistem ini digunakan terdapat beberapa sistem budidaya yang biasa digunakan di Indonesia, seperti budidaya menggunakan kolam terpal, kolam tanah, kolam beton dan lain lain.

Meskipun sistem bioflok belum lama dikembangkan di Indonesia, namun dari pengalaman para pembudidaya sistem ini mampu memberikan hasil yang jauh lebih baik dari sistem konvensional yang selama ini biasa digunakan. Bahkan menurut mereka, hasil yang didapat bisa mencapai 105%.

Pada artikel sebelumnya kita sudah membahas Pengertian Budidaya Lele Sistem Bioflok, Keuntungan dan Kelemahannya. Nah kali ini kita akan fokus pada Cara Budidaya Lele Sistem Bioflok mulai dari persiapan kolam bioflok, persiapan air pembesaran, penebaran benih hingga perawatannya.

Untuk memulai budidaya lele dengan sistem bioflok, persiapkan alat dan bahan terlebih dahulu

Alat dan Bahan

  • Bambu, besi, atau batako untuk kerangka/dinding kolam.
  • Terpal
  • Aerator
  • Probiotik
  • Kapur dolomit
  • Molase/ air gula merah
  • Asbes atau Plastik untuk atap
  • Ragi tempe dan ragi tape

Langkah-langkah Budidaya Lele Sistem Bioflok

Pembuatan Kolam

Dalam pembuatan kolam budidaya lele sistem bioflok, bahan yang digunakan tidak jauh berbeda dengan sistem budidaya konvensional. Hanya bedanya kalau sistem konvensional kolam berbentuk persegi, sedangkan dalam sistem bioflok digunakan kolam berbentuk bundar. Untuk menghemat biaya, kolam sebaiknya dibuat dengan menggunakan terpal. Sedangkan rangka atau dindingnya bisa dibuat dengan rangka bambu, besi atau menggunakan batako.

Pada budidaya sistem bioflok pembuatan kolam tidak membutuhkan lahan yang luas. Jadi untuk ukuran kolam dapat disesuaikan dengan luas lahan dan kapasitas produksi. Pada artikel ini kolam menggunakan ukuran standar 2,5 cm.

Baca: Begini Cara Mudah Membuat Kolam Terpal Rangka Bambu Untuk Ternak Lele

Sebagai patokan, untuk kolam dengan ukuran 1m³ dapat menampung hingga 1000 ekor ikan lele. Sedangkan dalam sistem konvensional dalam 1m³ hanya mampu menampung sekitar 100 ekor ikan lele.

Untuk menghindari sinar matahari dan air hujan yang dapat mempengaruhi kualitas air kolam, sebaiknya kolam diberi atap menggunakan asbes atau plastik.

Jangan lupa untuk memasang aerator pada kolam sebelum kolam digunakan.

Persiapan Air Pembesaran

Setelah kolam selesai dibuat, tahap selanjutnya adalah persiapan air pembesaran. Berikut ini tahap-tahap persiapan air pembesaran :

  • Pada hari pertama, isi kolam dengan air bersih dengan tinggi 80-100 cm.
  • Pada hari kedua, masukkan probiotik (bakteri pathogen) dengan dosis 5 ml/m3. Probiotik dapat dibeli di toko pertanian atau toko pakan ikan terdekat. Contoh merek probiotiknya seperti POC BMW, EBS Pro atau merek lainnya.
  • Pada hari ke ketiga, masukkan prebiotik (pakan bakteri) berupa molase (tetes tebu) dengan dosis 250ml/m3. Jika tidak ada bisa menggunakan air gula merah.
  • Pada malam harinya masukkan air rendaman dolomit dengan dosis 150-200 gram/m3.
  • Selanjutnya diamkan air selama 7-10 hari agar mikroorganisme dapat tumbuh dengan baik.

Penebaran dan Perawatan Benih Ikan Lele

  • Setelah air didiamkan selama 7-10 hari masukkan benih ikan lele. Sebelum benih ikan lele ditebar pastikan benih yang digunakan benih unggul dan dalam kondisi yang sehat. Jenis ikan lele yang akan dibudidaya tergantung minat.

Baca: Jenis jenis Lele Unggul Yang Banyak Dibudidayakan Di Indonesia.

Ciri-ciri benih yang bagus :

»Gerakannya aktif.

»Warna dan ukuran seragam.

»Organ tubuh lengkap dan tidak cacat.

»Bentuk tubuh proporsional dengan ukuran sekitar 5-7 cm.

  • Setelah benih ditebar, pada keesokkan harinya berikan probiotik ke dalam kolam dengan dosis 5 ml/m³.
  • Selanjutnya kita tinggal melakukan perawatan. Pada tahap perawatan, setiap 10 hari sekali berikanlah :
    • Probiotik 5 ml/m³.
    • Ragi tempe 1 sendok makan/m³.
    • Ragi tape 2 butir/m³.
    • Pada malam harinya berikan air rendaman kapur dolomite sebanyak 200-300 gr/m3.
  • Setelah benih ikan lele mencapai ukuran 12 cm atau lebih, setiap 10 hari sekali masukan kembali :

» Probiotik 5 ml/m³.

» Ragi tempe 2-3 sendok makan/m³.

» Ragi tape 6-8 butir/m³.

» Pada malam harinya berikan air rendaman kapur dolomite sebanyak 200-300 gr/m3.

Catatan : Pemberian ragi tempe dan ragi tape harus dilarutkan ke dalam air terlebih dahulu.

Pemberian Pakan Ikan Lele

  • Selama masa pembesaran ikan lele, pemberian pakan dan mesin aerator harus diperhatikan agar dapat mencapai produksi yang maksimal.
  • Pakan yang diberikan harus yang berkualitas baik dan ukurannya sesuai dengan lebar bukaan mulut ikan.
  • Pemberian pakan dilakukan dua kali yaitu pagi dan sore hari sebanyak 500-700 gram/hari selama 2,5-3 bulan lamanya. Dosis pemberian pakan cukup 80% saja sesuai kekuatan perut ikan.
  • Setiap seminggu sekali ikan dipuasakan (tidak diberi makan selama sehari). Tujuannya untuk mencegah timbulnya penyakit.
  • Sebelum pakan diberikan, sebaiknya pakan difermentasi dengan probiotik.
  • Pemberian pakan dapat dikurangi 30% setelah terbentuk flok pada kolam.

Pemanenan Ikan Lele

Pemanenan ikan lele dilakukan seperti halnya budidaya ikan lele konvensional yaitu pada usia ikan sudah mencapai 2,5-3 bulan. Biasanya dalam 1 kg dapat berisi 7-8 ekor ikan lele normal.

BACA JUGA