Pengertian Budidaya Lele Sistem Bioflok, Keuntungan dan Kelemahannya

Pengertian dan Sejarah Budidaya Lele Sistem Bioflok

bertaniorganik.com – Pengertian Budidaya Lele Sistem Bioflok, Keuntungan dan Kelemahannya – Meskipun lele tergolong sebagai jenis ikan yang tahan terhadap segala jenis air, akan tetapi jika dalam pembudidayaan tidak diberi perlakuan khusus, besar kemungkinan hasil budidayanya tidak akan maksimal.

Semakin mahalnya biaya pakan, serangan penyakit, serta tidak seragamnya pertumbuhan lele pada budidaya lele konvensional membuat banyak pembudidaya frustasi.

Namun beberapa tahun belakangan, muncul sebuah inovasi budidaya lele yang cukup fenomenal. Sistem budidaya tersebut disebut dengan budidaya lele sistem bioflok. Menurut berbagai literatur, sistem bioflok ini dinilai lebih efektif dibanding sistem budidaya lele kolam konvensional. Bahkan disebut mampu mendongkrak produktifitas lele hingga 105 % hanya dalam waktu 3 bulan. Hal ini karena dalam budidaya sistem bioflok, dengan menggunakan kolam yang sempit dapat diproduksi jumlah lele yang lebih banyak dalam waktu yang relatif lebih singkat. Dengan begitu biaya produksi menjadi berkurang dengan hasil produksi lebih banyak.

Lalu apa sebenarnya budidaya lele sistem bioflok?

Bioflok berasal dari kata bio yang berarti kehidupan dan floc yang berarti gumpalan. Sehingga bioflok dapat didefinisikan sebagai bahan organik hidup yang menyatu menjadi gumpalan-gumpalan.

Sedangkan budidaya lele sistem bioflok adalah sistem budidaya lele dengan memanfaatkan mikroorganisme untuk mengolah limbah budidaya lele itu sendiri. Dengan menumbuhkan mikroorganisme, limbah budidaya ikan lele akan menjadi gumpalan-gumpalan kecil (flok). Gumpalan-gumpalan yang terdiri dari berbagai mikroorganisme air seperti bakteri, algae, fungi, protozoa, metazoa, rotifera, nematoda, gastrotricha dan organisme lain yang tersuspensi dengan detritus, kemudian akan menjadi makanan-makanan alami ikan. Proses penumbuhan mikroorganisme tersebut dilakukan dengan memberikan kultur bakteri nonpathogen (probiotik) dan memasang aeratoer yang akan menyuplai oksigen serta mengaduk kolam.

Sejarah dan Perkembangan Bioflok

Awalnya teknologi bioflok adalah sebuah teknologi yang digunakan dalam pengolahan limbah. Dalam proses pengolahan limbah, bahan organik berupa limbah lumpur harus terus diaduk dan diaerasi. Tujuannya agar limbah selalu dalam kondisi tersuspensi sehingga dapat diuraikan oleh bakteri heterotrof secara aerobik menjadi senyawa anorganik.

Keharusan pengadukan dan aerasi dalam pengolahan limbah ini dikarenakan bahan organik yang mengendap akan menimbulkan kondisi anaerob yang dapat merangsang bakteri anaerob untuk mengurai bakteri anorganik menjadi senyawa yang lebih sederhana dan beracun berupa ammonia, Nitrit, H2S, dan Metana.

Teknologi bioflok yang sejatinya digunakan dalam pengolahan limbah ini kemudian coba diterapkan di Thailand dalam budidaya ikan nila, yang pada perkembangannya kemudian diterapkan pula dalam budidaya udang. Teknologi ini kemudian banyak diterapkan oleh negara-negara maju seperti Jepang, Brasil, Australia dll. Sementara penerapan teknologi bioflok dalam budidaya ikan di Indonesia belum lama dikembangkan.

Beberapa Permasalahan Yang Sering Terjadi Pada Sistem Biofloc

  • Flocs di kolam berbusa

Flocs di kolam berbusa disebabkan oleh adanya bakteri berfilamen yang menempel pada biofloc. Untuk itu ditebar 10 ppm Kalsium peroksida, ikuti dengan menahan pergantian air selama 5‐6 hari sambil dilakukan penambahan 20 ppm CaCO3/kaptan per harinya, jika pada hari ke 6 busa masih ada, tebar 10 ppm Kalsium Peroksida lagi, pada hari ke 7 air mulai dimasukkan ke dalam kembali, dan ketinggian air dipulihkan ke ketinggian semula.

  • Biofloc terlalu pekat

Jika bioflok pada kolam terlalu pekat lakukan pengenceran secara over flow, pipa pengeluaran dipotong sama rata dengan ketinggian air di dalam kolam. Biarkan air yang masuk menyebabkan air tumpah keluar lewat pipa pembuangan yang telah dipotong sama rat dengan ketinggian air di dalam kolam.

  • Biofloc ketebalannya berkurang (normal 10‐20 cm sechi disk) dan warna air mengarah ke hijau

Hentikan pengenceran, tahan air selama 5‐6 hari, aplikasikan pupuk ZA 1 ppm setiap harinya untuk menekan pertumbuhan chrollera atau aplikasikan pupuk ZA 5 ppm setiap harinya untuk menekan pertumbuhan blue green algae. Pada hari ke 7 sirkulasi/pengenceran secara over flow dapat dilakukan kembali.

  • Biofloc ketebalannya berkurang (normal 10‐20 cm sechi disk) dan warna air mengarah ke coklat merah

Hentikan pengenceran, tahan air selama 5‐6 hari, aplikasikan CaCO3 / kaptan 20 ppm setiap harinya dan 1‐2 x treatment dengan Kalsium peroksida. Pada hari ke 7 sirkulasi/pengenceran secara over flow dapat dilakukan kembali.

  • Warna hijau biru (BGA) atau merah (Dinoflagellata) tetap ada

Setelah 5‐6 hari treatment Berlakukan pola sistem “minimal exchange water” terhadap kolam tersebut, hindari pengenceran/sirkulasi. Penambahan air hanya dilakukan untuk mengganti air yang hilang/susut akibat penguapan, perembesan dan susut air akibat pembuangan lumpur rutin harian saja.

Hal-hal yang perlu Diperhatikan dalam Sistem Biofloc

  1. Bahan organik harus cukup (TOC > 100 mgC/L) dan selalu teraduk.
  2. Nitrogen disintesis menjadi mikrobial protein dan dapat dimakan langsung oleh udang dan ikan.
  3. Perlu disuplay C organik (molase, tepung terigu, tepung tapioka) secara kontinue atau sesuai dgn amonia dalam air • Oksigen harus cukup serta alkalinitas dan pH harus terus dijaga

Kekurangan Sistim Bioflok

  1. Tidak bisa diterapkan pada tambak yang bocor/rembes karena tidak ada/sedikit pergantian air.
  2. Memerlukan peralatan/aerator cukup banyak sebagai suply oksigen.
  3. Aerasi harus hidup terus (24 jam/hari).
  4. Pengamatan harus lebih jeli dan sering muncul kasus Nitrit dan Amonia.
  5. Bila aerasi kurang, maka akan terjadi pengendapan bahan organik. Resiko munculnya H2S lebih tinggi karena pH airnya lebih rendah.
  6. Kurang cocok untuk tanah yang mudah teraduk (erosi). Jadi dasar harus benar-benar padat (dasar berbatu / sirtu, semen atau plastik HDPE).
  7. Bila terlalu pekat, maka dapat menyebabkan kematian bertahap karena krisis oksigen (BOD tinggi).
  8. Untuk itu volume Suspended Solid dari floc harus selalu diukur. Bila telah mencapai batas tertentu, floc harus dikurangi dengan cara konsumsi pakan diturunkan.

Kelebihan Sistim Bioflok

  1. PH relatif stabil pH 7 – pH 7,8
  2. PH nya cenderung rendah, sehingga kandungan amoniak (NH3) relatif kecil.
  3. Tidak tergantung pada sinar matahari dan aktivitasnya akan menurun bila suhu rendah.
  4. Tidak perlu ganti air (sedikit ganti air) sehingga biosecurity (keamanan) terjaga.
  5. Limbah tambak (kotoran, algae, sisa pakan, amonia) didaur ulang dan dijadikan makanan alami berprotein tinggi
  6. Lebih ramah lingkungan.

Demikian Pengertian Budidaya Lele Sistem Bioflok, Keuntungan dan Kelemahannya semoga bermanfaat. Selamat mencoba.

BACA JUGA

Jenis Jenis Hama dan Penyakit Pada Ikan Lele dan Cara Mengatasinya

Jenis jenis Lele Unggul Yang Banyak Dibudidayakan Di Indonesia

Keunggulan Budidaya LELE MUTIARA, Varietas Unggul 50 hari Panen Tanpa Seleksi

Begini Cara Mengganti Air Kolam Lele Dengan Benar Agar Lele Tidak Stress

[AMPUH] Begini Cara Mengatasi Bau Amis Busuk Pada Kolam Lele Terpal Menggunakan Formula Bakteri Probiotik