Jenis jenis Serangan Hama dan Penyakit Pada Tanaman Jagung Berdasarkan Fase Pertumbuhan

Penyakit Pada Tanaman Jagung

bertaniorganik.com – Jenis jenis Serangan Hama dan Penyakit Pada Tanaman Jagung Berdasarkan Fase Pertumbuhan. Meskipun menanam jagung tergolong mudah namun bukan berarti bebas serangan hama dan penyakit sama sekali.

Beberapa hama yang paling sering menyerang tanaman jagung diantaranya lalat dan ulat. Sementara penyakit yang sering menyerang jagung disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur atau cendawan.

Beberapa jenis hama dan penyakit tersebut biasanya bergantian menyerang tanaman jagung mengikuti fase pertumbuhan tanaman. Sehingga jika tidak dilakukan pengendalian sesegera mungkin dapat menyebabkan kerugian pada petani.

Berikut ini beberapa jenis serangan hama dan penyakit pada tanaman jagung berdasarkan fase pertumbuhan tanaman.

FASE VEGETATIF  (0–14  Hari Setelah Tanam)

  1. Lalat bibit (Atherigona sp.)

Lalat bibit biasanya menyerang tanaman jagung pada fase awal pertumbuhan hingga umur 1 bulan. Dengan sasaran  titik tumbuh (makanan utamanya).

Gejala jagung terserang lalat bibit adalah jagung menjadi layu hingga mati dan jika tidak mati pertumbuhannya terhambat

Cara pengendaliannya: gunakanlah varietas tahan penyakit dan seeds treatment  melalui  tanah  pada  waktu tanam  atau berikan furadan pada kuncup daun pada umur tanaman satu minggu dengan dosis 0.24 kg b.a/ha.

2. Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hwfn.)

Ngengat Agrotis ipsilon biasanya meletakkan telur dalam barisan atau di permukaan daun yang dekat tanah. Larva  ulat tanah ini akan aktif makan pada malam hari dan akan bersembunyi dalam tanah pada siang hari.

Cara pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan pestisida berbahan aktif karbofuran.

3. Lundi /uret (Phyllophaga hellen)

Lundi atau Uret merupakan larva dari Kumbang yang muncul setelah adanya hujan pertama yang cukup lebat sehingga menyebabkan kondisi tanah cukup  lembab. Larva ini menyerang bagian akar, sehingga menjadikan tanaman layu, kemudian rebah atau mati.

Cara pengendalian dengan melakukan pergiliran tanaman atau mengolah tanah dengan baik guna mematikan larva.

4. Penyakit bulai (Peronosclerospora sp.)

Penyakit Bulai merupakan penyakit pada tanaman jagung yang disebabkan oleh cendawan P. maydis.

Gejala tanaman jagung terkena bulai adalah :

  • Daun berwarna putih sebagian atau keseluruhan.
  • Tanaman  yang terinfeksi  awal  akan menyebabkan  tanaman  kerdil,  tidak berbuah (bila  bertongkol , tongkolnya  tidak  normal).

Cara pencegahannya adalah benih disemprot dengan fungisida Nordox  56WP sebelum penanaman atau dapat pula menggunakan varietas tahan bulai seperti benih lokal Kalbar, Lagaligo, Surya,  Bisi-4, Pioneer (4,5,9,10 dan 12).

5. Penyakit Virus Mozaik Kerdil (VMK)

Penyakit Mozaik dapat disebabkan oleh Virus Mozaik  Tebu, Virus Mozaik Ketimun atau Virus Mozaik Kerdil. Gejala tanaman jagung terkena penyakit ini adalah terdapat perubahan warna yang menjadi hijau muda diantara hijau tua normal.

Cara pengendaliannya dengan mengendalikan vektor dengan menyemprotkan insektisida berbahan aktif monokrotofos, tamaron atau thiodan dan melakukan eradikasi pada tanaman yang terserang.

FASE GENERATIF (15 – 42 Hari Setelah Tanam)

  1. Penggerek batang  (Ostrinia furnacalis Guenee)

Penyakit penggerek batang dapat dijumpai pada tanaman berumur 40 HST. Penyakit ini disebabkan oleh ulat Ostrinia. Sebelum menetas menjadi ulat, ngengat betina meletakkan telurnya pada tulang daun bawah dari
teratas.

Ulat yang menetas kemudian menuju bunga jantan, ada juga yang langsung menggerek tulang daun yang terbuka, kemudian ulat menuju batang dan menggerek batang serta membentuk lorong yang mengarah ke atas.

Cara pengendaliannya dengan menggunakan insektisida Carbofuran 3% di pucuk tanaman dengan dosis 2-3 gram pertanaman.

2. Ulat grayak (Spodoptera litura, Mythimna s)

Ulat grayak muncul saat tanaman berumur 11–30 HST. Serangan ulat grayak pada tanaman muda dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat hingga menyebabkan kematian. Jika terjadi serangan berat pada  pertanaman, dapat mengakibatkan daun tinggal tulang saja. Sebelum menetas menjadi ulat, kelompok telur diletakkan oleh Ngengat betina di permukaan bawah daun.

Cara pengendaliannya adalah dengan menyemprotkan insektisida berbahan aktif Carbofuran 3% pada pucuk tanaman.

3. Wereng Jagung (Peregrinus maidis Ashm.)

Wereng jagung merupakan vektor atau pembawa virus pada tanaman jagung. Gejala tanaman jagung terserang wereng adalah daun tampak bercak bergaris kuning, garis pendek terputus sampai bersambung pada tulang daun kedua dan ketiga.

Cara pencegahan dan pengendaliannya adalah dengan melakukan penanaman secara serempak, menanam jagung pada akhir musim  hujan, serta gunakan insektisida berbahan aktif Carbofuran 3%.

4. Penyakit Bercak Daun (Bipolaris maydis)

Penyakit bercak daun disebabkan oleh cendawan Helminthosporium turcicum Pass atau Helminthosporium maydis Nisik.

Gejala serangan penyakit bercak daun adalah berupa bercak coklat kelabu seperti jerami pada permukaan daun.

Cara pengendalian: benih diberi metalaksil (2,5  g/kg) sebelum tanam dan pemberian pupuk NPK + Nordox56WP (setiap  1  kg  NPK ditambahkan  5  g  Nordox56WP).

5. Penyakit Hawar/Upih (Rhizoctonia solani K.)

Penyakit Hawar disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani Kuhn.

Gejala jagung terserang penyakit hawar : bercak melebar di daun dan juga di pelepah dengan warna merah keabu-abuan. Adanya butiran berwarna putih (sclerotia) yang bisa berubah menjadi kecoklatan yang menempel pada permukaan daun/pelepah yang terinfeksi. Penyakit  Hawar umumnya menyerang pada musim hujan.

Cara pencegahannya dengan melakukan pergiliran varietas.

6. Penggerek Tongkol (Helicoverpa armigera Hubn.)

Serangan penggerek tongkol dimulai saat Ngengat betina meletakkan telurnya pada rambut tongkol secara tunggal pada tanaman umur 45 – 56 HST, saat munculnya rambut tongkol, dan menetas ± 4 hari kemudian.

Ngengat aktif pada malam  hari, menyerang  tongkol, pucuk dan malai, sehingga bunga  jantan tidak terbentuk

Cara pengendaliannya dengan menyemprotkan insektisida berbahan aktif Carbofuran 3% menjelang berbunga bila ditemui 3 tongkol rusak per 50 tanaman baru terbentuk buah.

7. Penyakit Busuk Batang dan Busuk Tongkol

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Fusarium sp., Diplodia sp., dan bakteri Erwinia sp. Gejalanya yang dapat kita lihat adalah pada pangkal batang busuk, sehingga bagian atas menjadi layu dan mengering. Bila terjadi pada tongkol, maka tongkol yang terserang menjadi busuk sebagian atau seluruhnya.

Cara pengendaliannya dengan menggunakan varietas tahan penyakit, pemupukan berimbang,  menghindari penanaman pada musim hujan, dan dapat pula dengan menyemprotkan fungisida (Sumartini dan Hardaningsih 1995).